Scroll untuk baca artikel
Pojok Rohani

Sejarah Gereja Katolik Di Pulau Timor (2) — Masa Kelam Gereja Perdana Dan Para Misionaris Jesuit

529
×

Sejarah Gereja Katolik Di Pulau Timor (2) — Masa Kelam Gereja Perdana Dan Para Misionaris Jesuit

Sebarkan artikel ini

Pada bagian terdahulu telah dikisahkan tentang sukacita dan kebanggaan atas kehidupan Gereja perdana di Pulau Timor. Namun ibarat laut ada pasang dan ada pula surutnya, kehidupan Gereja awal di Pulau Timor pun tak luput dari pasang surut. Dibalik sukacita dan perkembangan iman yang membanggakan, muncul pula masa kelam bagi Jemaat awal ini.

Masa kelam itu datang, ketika terjadi peralihan kekuasaan atas Tanah Timor dari Portugis ke bangsa Belanda yang mayoritas menganut agama Protestan (1641-1942). Pada masa ini, para pastor Katolik dideportasi dari tanah Timor dan digantikan oleh para Pendeta Protestan. Iman Katolik yang baru mulai berkembang pun kembali layu karena pada masa ini tidak ada pelayanan dari seorang Imam pun. Hingga Tahun 1874, umat serani di Tanah Timor tidak dilayani Imam.

Tetapi apakah benih-benih Iman Katolik yang sudah ditaburkan oleh para Misionaris awal di Tanah Timor ini akan mati? Tentu tidak. Rupanya dalam situasi sulit ini, Roh Kudus tetap berkarya di dalam GerejaNya. Dalam situasi ini justeru muncul rasul-rasul awam yang dengan gigih mempertahankan kehidupan iman Katolik di tengah kawanan yang telah dimeterai dengan Roh Kudus.

Baca Juga:  Sejarah Gereja Katolik Di Pulau Timor (4) -- Para Misionaris Awam Putera Pribumi 

Pada tanggal 20 April 1859 pemerintah Portugal dan Belanda melakukan pertemuan di Lisabon dan menyepakati untuk membagi Pulau Timor menjadi dua bagian, dimana bagian barat dikuasai oleh Belanda dan bagian timur dibawah kekuasaan portugis. Maka dengan sendirinya, kehidupan agama di Pulau Timor pun terbagi menjadi dua. Protestan di bagian barat dan Katolik di bagian timur.

Pada masa ini, Gereja Katolik di Pulau Timor, khususnya di Atapupu dan Lahurus (sekarang: Kabupaten Belu) dilayani oleh para Misionaris Jesuit (serikat Yesus). Mulai dari Pastor Gregorius Metz, SJ, yang ditempatkan sebagai Pastor untuk seluruh daratan Timor pada tahun 1860-an, yang kemudian disusul beberapa Misionaris lain. Pada masa ini, Atapupu (Jenilu) dijadikan sebagai pusat kegiatan Misi. Selain Atapupu, Fialaran (Lahurus) juga menjadi ladang misi yang subur.

Baca Juga:  Bupati Simon Serukan Melayani dengan Hati, Merangkul dengan Kasih

Dengan ditetapkannya Atapupu (Jenilu) sebagai pusat kegiatan Misi, maka pada tanggal 1 Agustus 1883, dua Misionaris Jesuit mulai menetap di sini. Mereka adalah Pater Y. Kraajvanger, SJ dan Bruder Vermeulen, SJ.

Dikisahkan bahwa, dua Misionaris ini nemulai karyanya dengan membangun gedung gereja dan sekolah untuk mendidik para remaja. Dengan demikian, perlahan namun pasti, kehidupan iman Katolik mulai berkembang.

Dari Jenilu, Atapupu, karya misi pun melebar ke Fialaran, Lahurus. Ini dibawah tanggung jawab Pater A.Y. de Kuijper, SJ dan Bruder Yohanes Hansates, SJ. Namun dalam perjalanan waktu, Pater Kuijper meninggal dunia dan digantikan oleh Pater Adrianus A. J. Mathijsen, SJ. Sejarah mencatat bahwa Pater Mathijsen mengabdikan diri di Timor selama 23 tahun dan diakui sebagai salah satu peletak dasar Gereja Katolik di Tanah Timor.

Baca Juga:  Sejarah Gereja Katolik Di Pulau Timor (1) -- Baptisan Pertama Dan Gereja Perdana

Pada jamannya, Pater Mathijen melakukan ekspansi pewartaan iman hingga ke bagian selatan Pulau Timur. Tercatat bahwa Patet Mathijsen berhasil menjalin persahabatan dengan Raja Alas Kotabot (sekarang: Kabupaten Malaka) bernama Mauk Bamani. Karena persahabatan tersebut, Raja Mauk Bamani membantu kehidupan misi melalui donasi bahan makanan. Dan lebih dari itu, Raja Mauk Bamani akhirnya dipermandikan dengan nama baptis Aloysius.

Pater Mathijzen juga menaruh minat yang besar pada bahasa Tetum demi memperlancar karya misi. Pada tahun 1890 ia berhasil menulis buku sembahyang dan katekismus dalam bahasa Tetum, serta Testamentu Foun (perjanjian baru). Ia juga menyusun kamus Tetum-Belanda dan beberapa buku lain.

Sejarah mencatat, bahwa misi Lahurus pasca Pater Mathijsen dilanjutkan oleh Pater Kuijper dan Pater Hendrico Janssen, SJ.(bersambung)

* Sumber: Jejak Tapak Sang Guru karya Daniel Tifa & Drs. Nikolaus Tnano, MA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *