Rintihan Pilu Sang Teda: Tuhan Tidak Tidur Ketika Keringat Kami Untuk Rai Malaka Tidak Dianggap

oleh -2.775 views

Malaka, NTT — Mengabdikan diri sebagai seorang pegawai kontrak daerah alias Teda atau Teko ternyata bukanlah suatu pekerjaan yang enteng dan enak-enak saja. Terlambat sampai di tempat kerja dibilang cuman Teda saja kok terlambat seperti pejabat besar. Kalau ada kekurangan dalam pelayanan dibilang hanya Teda saja kok balagu. Semua itu harus ditanggung sebagai resiko pekerjaan dan pengabdian untuk Rai Malaka.

Ocehan dan sindiran seperti itu sudah biasa bagi Melkianus Klau dan Yanuarius Sasi serta ribuan pegawai Teda lainnya. “Namanya juga abdi masyarakat. Kalau diomelin masyarakat ya, sudah hal biasa. Buat ini salah, buat itu salah. Berbuat salah, tidak berbuat juga salah. Tapi namanya abdi masyarakat, ya mengabdi saja. Pun soal gaji, tiga atau empat bulan baru terima tak jadi soal. Intinya bisa berbuat untuk Rai Malaka”, ujar Melkianus Klau di Besikama, Sabtu (05/06/2021).

“Ya, tapi kali ini ocehan dan omelan datang dari sang pemimpin, yang notabene orang yang mempekerjakan kita. Kita dibilang ‘nai ririk’ (tidak bekerja, red). Dengan kata lain kita dibilang makan gaji buta”, timpal Yanuarius Sasi.

“Betul, kawan. Lanjutannya, daripada kita hanya pergi jaga foto kopy, jaga apotik dan kasimakan babi. Tega-teganya pemimpin kita omong begitu, ya? Padahal, ada berapa foto kopy, apotik dan peternakan babi di Malaka yang menampung pekerja sampai ribuan? Lagipula, kita kan tidak bekerja di kantor 24 jam. Kalau memang ada diantara kita yang memilih untuk menambah penghasilan dari pekerjaan sampingan di tempat foto copy, apotik atau pekerjaan sampingan lain, apakah itu berdosa?”, sahut Melkianus lagi.

“Iya, kawan. Apakah itu berdosa? Padahal tuntutan hidup sekarang mengharuskan kita untuk bekerja keras. Apa Teda dilarang bekerja keras untuk mendapatkan hidup yang lebih baik?”, timpal Yanuarius.

Keduanya terdiam. Masing-masing larut dalam lamunannya. Tatapannya menerawang jauh ke langit malam yang pekat. Mencari jawaban pada heningnya malam takk berbintang? Entahlah!

“Kawan, siapa yang bakal membantu kita?”, suara Yanuarius memecah kesunyian.

“Entahlah, kawan. Kabarnya, besok akan ada diskusi antara para wakil kita di parlemen dengan pemerintah tentang kita. Baiklah kita berdoa, supaya para wakil kita tidak ikut mengabaikan keringat pengabdian kita untuk Rai Malaka. Kita berdoa supaya Bupati kita tidak merasa kecil untuk menarik kembali kata-katanya. Karena jujur, kata-kata itu menyakitkan hati kita”, sahut Melkianus.

“Betul katamu, kawan. Hati kita sakit. Sakit bukan karena nanti kehilangan pekerjaan, tapi sakit karena keringat kita untuk Rai Malaka dipandang remeh. Kalau perlu, wakil-wakil kita di DPRD minta Bupati untuk tunjuk bukti Teda siapa yang dibayar daerah terus tidak bekerja untuk daerah tapi kerjakan pekerjaan pribadi”, timpal Yanuarius.

“Setuju, kawan. Bupati harus tunjuk itu supaya yang bersangkutan diberhentikan. Jangan pukul rata saja”, kata Melkianus sambil menelan ludah yang tersangkut di tenggorokannya. Ada kegetiran dalam setiap kata yang dilepaskan bibirnya.

“Di Gua Lordes Tubaki Betun. Di tempat suci itu, keringat kami juga menetes supaya tempat itu menjadi indah. Di tempat suci itu pula, kami dihakimi. Keringat kami untuk Rai Malaka tidak dianggap. Kami percaya, Tuhan tidak tidur”, ujar Mekianus lirih. Dan kata-katanya larut dalam kesunyian malam, mengetuk nurani. Akankah beralun pula di hadirat Sang Empunya? “Iman kami, Tuhan tidak tidur”, lanjutnya.

Diberitakan sebelumnya, Bupati Malaka, Dr. Simon Nahak, SH, MH telah mengumumkan kepada publik untuk membekukan SK Pegawai Kontrak Daerah. Adapun alasan pembekuan SK pengangkatan ribuan tenaga kontrak daerah tersebut adalah efisiensi anggaran agar program prioritas Bupati dan Wakil Bupati dapat dijalankan.

“Saya sudah sampaikan ke bagian hukum dan sekda untuk sementara waktu SK teko saya hentikan dulu. Daripada loron emi ba emi Karian hai be nai ririk, em Karian hai be em ba hare bet hahan ema fahin sia, emi ba rakar foto copy emik sia, em ba rakar apotik emik sia (daripada tiap hari kamu pergi tidak kerja, pergi hanya berdiri-berdiri saja, kamu lihat orang punya babi untuk kasi makan, kamu pergi jaga orang punya foto copy, kamu pergi jaga orang punya apotik, Red) lebih baik dibekukan dulu untuk sementara waktu”, ujarnya.

“Ho’i bagian Ida nai loit no ha’i, ho’i ida ne Mai loit no ha’i, a kalau no ha’i bebeik atu ita hansa tenik. (ke bagian ini uang tidak ada, ke satu lagi uang tidak ada, kalau tidak ada terus kita mau buat apa lagi, Red). Lebih baik saya pangkas hal-hal yang tidak penting daripada program saya tidak berjalan”, tambahnya*

Peliput: Andry Bria / Tim
Penulis/ Editor: BuSer

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.