Ratusan Hektar Sawah Di Malaka Alami Kekeringan Ekstrim Pasca Banjir Bandang

oleh -1.296 views

Malaka, NTT — Ratusan lahan sawah milik warga Kabupaten Malaka, Provinsi Nusa Tenggara Timur mengalami kekeringan yang sangat ekstrim. Akibatnya, padi dengan umur tanam bervariasi mulai layu dan mengering.

Hal tersebut diakibatkan oleh terhentinya pasokan air irigasi Bendung Benenai sejak awal April lalu. Diketahui, Bendung Benenai sendiri rusak dan tidak berfungsi sebagaimana mestinya akibat diterjang Banjir Bandang awal April silam.

Warga petani lahan basah di sejumlah Kecamatan, antara lain Malaka Tengah, Weliman dan Malaka Barat pun mengaku resah dengan kondisi saat ini. Warga cemas dan khawatir akan terjadi paceklik yang berkepanjangan tahun ini.

“Seperti yang kita lihat sendiri, sawah kering. Kalau yang dapat air dari sumber lain aman. Tapi kita yang bergantung pada irigasi bendung Benenai susah. Air tidak datang. Katanya Bendung rusak. Kalau seperti ini terus pasti lapar (paceklik, red). Orang muda dong bilang susah su mari”, ujar Mateus Bria, ketika ditemui di areal persawahan Desa Kletek, Kecamatan Malaka Tengah, Kamis (28/04/2021).

Baca Juga:  Merespon Sakunar Tentang Dugaan Permainan Harga Sembako, Pj Bupati Malaka: Yang Nakal Kita Sanksi

Setali tiga uang, apa yang dikatakan Mateus tak jauh berbeda dengan ungkapan isi hati Herminus Bria Muti, ketika ditemui di Desa Loofoun, Kecamatan Malaka Barat. Herminus mengaku pernah mencari solusi dengan metode pembuatan sumur bor, yang kemudian disedot untuk mengairi sawah.

“Tapi biayanya mahal karena harus sedot dengan mesin dan harus pakai bensin. Paling lama 2 hari sekali harus sedot dan itu menghabiskan hingga 5 liter bensin. Kalau hitung dari padi baru tanam saat ini bisa 3 bulan kita sedot. Pengeluarannya besar sekali. Itupun tidak maksimal karena padi tetap kuning”, ungkapnya.

Baca Juga:  Adrianus Bria Seran Dan Keluarga Berbagi Berkat Dengan Korban Banjir Malaka Di 4 Desa

Herminus juga khawatir, akan terjadi paceklik besar-besaran tahun ini. Pasalnya, panenan jagung petani lahan kering tidak maksimal karena hujan dan banjir bandang. Sementara, para petani lahan basah sendiri terancam gagal total karena padi gagal tumbuh.

“Harapan kita, pemerintah segera carikan solusi terbaik untuk masalah ini. Jika tidak, persoalan besar menanti kita di depan”, ujar Benyamin Seran, ketika ditemui di kawasan persawahan Desa Rabasa Haerain.

Informasi yang berhasil dihimpun Sakunar, Bendung Benenai sendiri sedang dalam perencanaan perbaikan. Dan menurut Wakil Menteri PUPR, John Wempi Wetipo, SH, MH ketika berkunjung ke Malaka, Rabu (21/04/2021) lalu, perbaikan permanen Bendung Benenai membutuhkan waktu cukup lama, yakni sekitar 18 bulan.

Baca Juga:  Gandeng YCN Dan GPN, Polsek Weliman Bantu Korban Banjir Minggu Paskah Malaka

“Untuk normalisasi Bendung Benenai perlu pinjam lahan lima keluarga yang ada di sekitar kawasan bendung. Tinggal bupati komunikasi dengan mereka bahwa ini soal penanganan darurat. Kita pinjam pakai sementara. Setelah selesai pembangunan permanen maka lahan dikembalikan”, kata John Wempi kala itu.

Rakyat tentu membutuhkan penanganan darurat itu, sebelum permanen dilakukan. Kapan? Rakyat berharap, Pemda Malaka segera melakukan negosiasi dengan pemilik lahan untuk penanganan darurat tersebut.*(BuSer/Tim)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.